Francesco Farioli adalah salah satu pelatih muda dengan perkembangan tercepat di dunia. Pada usia 37 tahun, ia berhasil membawa Porto meraih gelar juara Liga Portugal musim lalu. Kini, ia bersiap menghadapi ujian terbesar dalam karier kepelatihannya: laga perdana di Liga Champions melawan Manchester City di Estadio do Dragao, Selasa (8/9/2026).

Perjalanan Farioli menuju panggung elite Eropa ini terbilang unik. Sebelum melatih, ia adalah kiper non-liga di Italia yang juga aktif sebagai blogger di platform Wyscout. Karier kepelatihannya dimulai di Turki pada 2021 bersama Fatih Karagumruk dan Alanyaspor. Ketika namanya dikaitkan dengan kursi kosong di Chelsea, Liverpool, dan Rangers musim lalu, Farioli justru memilih bertahan di Porto. "Saya tidak merasa bisa berada di tempat yang lebih baik," ujarnya kepada BBC Sport. "Saya bilang di makan malam akhir musim, mereka telah menciptakan masalah bagi saya, karena saya harus membawa presiden dan direktur bersama saya."

Hubungan erat dengan presiden klub, Andre Villas-Boas, mantan manajer Tottenham dan Chelsea, menjadi salah satu alasan utamanya bertahan. Namun, figur kunci lain dalam kisahnya adalah Roberto de Zerbi, pelatih Tottenham saat ini. De Zerbi-lah yang merekrut Farioli sebagai staf kepelatihan di Benevento pada 2017, kemudian membawanya ke Sassuolo. Pengalaman berharga itu membentuk fondasi taktik Farioli yang khas.

Sebelum menang di Portugal, Farioli sempat menukangi Nice di Prancis dan Ajax di Belanda. Namun, masa di Ajax berakhir dengan kekecewaan setelah gagal merebut gelar Eredivisie di hari terakhir. "Saya terbiasa masuk ke situasi yang tidak nyaman, di mana ada kurangnya arah dan hal-hal yang tidak beres," kata Farioli. Ia menemukan semangat serupa di Porto, yang juga merasakan "sakit" setelah finis ketiga sebelum kedatangannya. Kini, Porto telah memenangkan Piala Super Portugal dan bertekad mengejutkan City asuhan Enzo Maresca.

Identitas permainan Porto di bawah Farioli sangat khas: penguasaan bola, struktur solid, dan pressing ketat. Porto memulai musim dengan lima kemenangan beruntun dan baru kebobolan satu gol di liga. Farioli menekankan keseimbangan antara menyerang dan bertahan. "Satu tahun di Ajax, saya dituduh terlalu ofensif. Sekarang di Porto, saya dituduh terlalu defensif. Mungkin bukan salah satu dari itu, tapi hanya tentang menyeimbangkan tim," jelasnya.

Farioli juga dikenal dekat dengan pemainnya. Ia pernah memberikan kuesioner anonim kepada para pemain tentang taktiknya, memungkinkan skuad memberikan masukan. Pendekatan manusiawi ini membuat para pemain merasa dihargai. "Kolaborasi antar pemain adalah kuncinya," tambahnya.

Kini, dengan laga melawan City di depan mata, Farioli memiliki kesempatan untuk menguji idenya melawan salah satu tim terbaik dunia. Akankah Porto mampu memberikan kejutan? Semua akan terjawab di Estadio do Dragao.