Franco Mastantuono akhirnya buka suara soal keputusannya bergabung dengan Fiorentina dengan status pinjaman dari Real Madrid. Gelandang muda Argentina itu mengaku mendapat nasihat berharga dari Jose Mourinho dan mengidolakan Gabriel Batistuta.
Mastantuono menjadi sensasi ketika Real Madrid menggelontorkan dana sekitar Rp765 miliar untuk menebusnya dari River Plate pada 2025. Namun, minimnya menit bermain membuat Los Blancos memutuskan meminjamkannya ke klub lain, dan Fiorentina menjadi pilihan utama sang pemain.
“Saya memikirkan Serie A, liga kompetitif yang selalu menarik perhatian saya, pentingnya klub, dan banyak orang Argentina yang menulis sejarah di sini,” ujar Mastantuono kepada La Gazzetta dello Sport. “Semua orang yang saya ajak bicara tentang Florence berbicara dengan sangat positif tentang kota itu.”
Berkat perayaan seratus tahun Fiorentina, Mastantuono langsung bertemu legenda Argentina, Gabriel Batistuta. “Itu luar biasa. Kami berbicara tentang sepak bola, kota, fans, dan apa artinya bermain di sini. Florence adalah rumahnya, jadi saya akan menyimpan nasihatnya,” kenangnya.
Berbeda dengan beberapa klub peminat lain, Fiorentina musim ini tidak tampil di kompetisi Eropa. Namun, Mastantuono tak mempermasalahkannya. “Belum saatnya bicara soal Eropa. Tim ini kuat, kami punya pemain berpengalaman seperti David De Gea, antusiasme, dan rasa lapar. Tapi banyak pemain baru dan butuh waktu untuk menemukan keseimbangan,” jelasnya.
Pemain berusia 18 tahun itu juga mengaku terpikat dengan proyek pelatih Fabio Grosso. “Begitu dia menelepon, saya paham proyeknya sempurna untuk saya.” Ia juga mendapat dorongan dari manajer Real Madrid saat ini, Jose Mourinho, yang paham betul Serie A. “Dia pelatih hebat dengan energi luar biasa. Saya belum memilih Florence saat bicara, tapi dia memberi nasihat. Diputuskan bersama bahwa dipinjamkan untuk bermain reguler adalah pilihan terbaik,” ungkap Mastantuono.
Meski sadar sepak bola Italia lebih fisik dan taktis, Mastantuono justru melihatnya sebagai peluang berkembang. “Ini lebih dekat dengan Argentina. Semakin sulit, semakin Anda dipaksa untuk berkembang. Satu-satunya cara untuk terus tumbuh,” ujarnya.
Mastantuono juga mengaku mengagumi Lionel Messi, Angel Di Maria, dan Paulo Dybala. “Messi yang terbaik, kehormatan bisa bermain dengannya, tapi sedih dia pensiun dari timnas. Saya mengagumi Di Maria dan Dybala, terutama karena Dybala bermain di posisi saya. Tapi tak adil membandingkan dengan pemain yang kariernya luar biasa,” katanya.
Ia tak sabar menghadapi Inter Milan dan Lautaro Martinez. “Saya akrab dengan Dybala, kami pernah main padel di Argentina. Kemeja Argentina adalah yang terbaik, saya harap segera kembali memakainya,” pungkasnya.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang