Ryan O'Hanlon, penulis ESPN, menyoroti fenomena menarik di bursa transfer Premier League: klub-klub top justru mengeluarkan dana besar untuk winger yang jago dribel tapi minim kontribusi gol. Contoh terbaru adalah kepindahan Iliman Ndiaye ke Manchester City dengan harga €70 juta (sekitar Rp1,19 triliun). Padahal, statistik Ndiaye bersama Everton menunjukkan hanya 0,25 gol+assist non-penalti per 90 menit selama dua musim terakhir. Itu menempatkannya di bawah 96 pemain Premier League lainnya dalam hal produktivitas per menit. Namun, keahlian dribelnya yang luar biasa membuat City tetap memboyongnya.

Ndiaye bukan satu-satunya. Dalam tiga musim terakhir, klub-klub Premier League telah menghabiskan setidaknya €40 juta (sekitar Rp680 miliar) untuk 23 winger berbeda, menurut data Transfermarkt. Dari 19 pemain yang berasal dari liga top Eropa, hanya lima yang mencetak angka xG+xA non-penalti di atas 0,5 per 90 menit pada musim sebelum kepindahan mereka. Itu pun termasuk pemain seperti Brennan Johnson yang lebih berperan sebagai penyerang tengah lebar, dan Mbaye yang hanya bermain 900 menit sebagai pemain pengganti. Artinya, hanya tiga winger murni yang benar-benar produktif secara statistik.

Lalu, mengapa klub-klub tetap tergiur? Ada tiga faktor utama. Pertama, pergeseran taktik menuju kontrol permainan. Tim-tim papan atas kini lebih memilih membangun serangan secara metodis dan menjaga lebih banyak pemain bertahan. Akibatnya, satu-satunya cara membongkar pertahanan rapat adalah dengan mengandalkan dribel individu winger. Data menunjukkan hanya 17 pemain yang menyelesaikan setidaknya 1,75 take-on per 90 menit di Premier League musim lalu, dan 14 di antaranya ada dalam daftar transfer mahal tersebut.

Kedua, obsesi terhadap atribut fisik. Klub-klub Eropa kini gencar menggunakan metrik seperti kecepatan lari, akselerasi, dan deselerasi. Metrik ini dianggap lebih mudah diukur dan diandalkan dibandingkan model prediksi gol. Padahal, kecepatan dan kelincahan berkorelasi dengan kemampuan dribel, sehingga bias terhadap pemain atletis semakin kuat. Ketiga, godaan potensi. Pelatih dan scout sering membayangkan apa yang bisa dilakukan pemain jika diasah, mirip dengan wide receiver yang lari 40 yard dalam 4,3 detik atau center setinggi 7 kaki yang lincah.

Fenomena ini bukan sekadar keanehan acak. Ini sudah berlangsung selama tiga musim dan melibatkan banyak klub besar. Mantan pemain seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Mohamed Salah dulu mengubah paradigma winger menjadi mesin gol. Kini, Premier League sepertinya lupa bahwa tujuan akhir sepak bola adalah mencetak gol. Klub-klub lebih memilih winger yang bisa memukau di highlight YouTube ketimbang yang benar-benar produktif. Selama kemampuan dribel masih dianggap sebagai tiket menuju kesuksesan, winger seperti Ndiaye akan terus dibayar mahal, terlepas dari apakah itu keputusan tepat atau tidak.