Tottenham Hotspur menghadapi dilema finansial terkait hak penamaan stadion mereka. Stadion megah yang dibuka pada 2019 itu masih menyandang nama 'Tottenham Hotspur Stadium', tanpa sponsor komersial. Keputusan ini mempengaruhi kemampuan klub dalam belanja transfer di bawah aturan baru Premier League.

Sejak 2019, Tottenham Hotspur Stadium menjadi markas Tottenham Hotspur tanpa sponsor penamaan. Langkah ini dianggap angin segar bagi tradisionalis, tetapi berpotensi mengurangi pendapatan klub. Di tengah persaingan ketat, hak penamaan stadion bisa menjadi sumber dana signifikan. Menurut laporan, nilai penamaan stadion Tottenham bisa mencapai £40 juta per musim, setara sekitar Rp680 miliar (kurs £1 = Rp17.000). Angka ini berdasarkan perbandingan dengan kesepakatan klub lain seperti Everton dan Arsenal.

Premier League kini menerapkan aturan Squad Cost Ratio (SCR) yang membatasi pengeluaran klub untuk gaji dan transfer maksimal 85% dari pendapatan sepak bola dan keuntungan dari penjualan pemain. Aturan ini menggantikan Profitability and Sustainability Rules (PSR) yang dianggap kurang efektif. Dengan SCR, klub seperti Tottenham harus meningkatkan pendapatan agar bisa bersaing di bursa transfer. Tanpa sponsor stadion, potensi pendapatan mereka berkurang, sehingga mempengaruhi daya beli.

Everton menjadi contoh nyata dengan mendapatkan £10 juta per musim dari hak penamaan Hill Dickinson Stadium. Sementara itu, Arsenal memiliki kesepakatan dengan Emirates yang bernilai £70 juta per tahun, mencakup lebih dari sekadar stadion. Jika Tottenham melepas hak penamaan, mereka bisa mendapatkan sekitar £40 juta per musim. Namun, manajemen klub memilih untuk menunggu kesepakatan yang tepat dengan merek yang sesuai nilai klub.

"Kami berada di industri yang sangat kompetitif bersama sejumlah klub dengan ambisi serupa, dan kami hanya akan bermitra dengan merek paling terhormat, terkenal, yang selaras dengan nilai klub dan dapat membawa sesuatu untuk pengalaman penggemar," ujar juru bicara Tottenham kepada BBC Sport. Pernyataan ini menegaskan bahwa Tottenham tidak terburu-buru dan mengutamakan kualitas kemitraan.

Dampak dari keputusan ini terasa pada strategi transfer Tottenham. Dengan aturan SCR, setiap pembelian pemain harus diimbangi dengan pendapatan. Tanpa dana tambahan dari sponsor stadion, Tottenham mungkin kesulitan bersaing dengan klub lain yang memiliki pendapatan lebih besar. Namun, stadion mereka yang serbaguna—sering digunakan untuk konser dan acara lain—memiliki potensi besar untuk menghasilkan pendapatan non-sepak bola yang dapat membantu memenuhi batas SCR.

Ke depan, Tottenham Hotspur harus memutuskan apakah akan mempertahankan nama stadion tanpa sponsor atau mengambil peluang komersial yang menguntungkan. Keputusan ini akan sangat mempengaruhi kemampuan mereka bersaing di Premier League dan Eropa, terutama dalam hal belanja pemain. Dengan potensi nilai mencapai Rp680 miliar per tahun, sponsor stadion bisa menjadi kunci untuk memperkuat skuad dan memenuhi ambisi klub.